Minggu, 02 Desember 2012

Anggrek Untuk Nenek


 “Uhukk..uhukkk..”suara batuk nenek membangunkan Syifa dari tidurnya. Kamar Syifa yang bersebelahan dengan kamar neneknya membuat Syifa sering terganggu tidurnya akibat suara batuk nenek. Syifa masuk ke kamar neneknya sambil membawa segelas air hangat. “Nenek mau minum air hangat? Tenggorokan Nenek sakit ya?” tawar Syifa pada neneknya. “Nenek tak apa-apa,Syifa. Terima kasih ya air hangatnya,”nenek meneguk air dari Syifa lalu bangkit dari tempat tidur untuk melakukan aktivitas yang sudah biasa ia lakukan dipagi hari. Nenek Syifa adalah orang yang rajin. Meskipun sakit-sakitan ia tetap mempunyai semangat untuk merawat anggrek-anggrek kesayangan nya.

“Nek,Syifa pergi sekolah dulu ya!”Syifa pamit kepada neneknya yang sedang menyiram tanaman. “Bu,saya antar Syifa sekolah dulu ya!”mama Syifa juga pamit kepada nenek. “Iya,hati-hati ya. Syifa belajar yang rajin ya! Biar bisa jadi pelukis terkenal!”nenek memberi Syifa semangat.

Jam setengah satu tepat,Syifa pulang dari sekolahnya. “Assalamualaikum!” Syifa mengucap salam. Syifa yang baru pulang dari sekolah tertarik melihat neneknya yang sedang memegang dan memperhatikan anggrek-anggreknya yang hampir mekar. “Waalaikumsalam.. Syifa lihat anggrek nenek sudah hampir mekar. Coba ambil handphone mu!”nenek menyuruh Syifa. “Buat apa handphone nya,Nek?”tanya Syifa. “Nenek mau ambil gambar nya dengan kamera handphone mu. Nanti gambarnya mau Nenek cetak,”nenek berkata dengan raut muka bahagia. “Nanti saja,Nek! Tunggu bunganya mekar semua,nanti Syifa ambil fotonya.”Syifa langsung masuk kedalam rumah.

Keesokan harinya,Syifa terbangun dari tidurnya. Kali ini ia tidak mendengar suara batuk nenek. Syifa segera mandi dan bersiap berangkat kesekolah. “Hari ini Kamu pergi sekolah diantar Kak Rafli saja ya!”pinta mama pada Syifa. Syifa yang melihat mamanya membawa susu ke kamar nenek tidak menjawab dan ballik bertanya. “Susunya nenek mau Mama bawa kemana? Biasanya kan Mama letakkan diatas meja makan.” Mama menjelaskan,“Nenek sedang tidak enak badan. Katanya kepalanya pusing dan nafasnya sesak. Jadi Kamu diantar Kak Rafli saja ya. Mama mau jaga nenek”.

Disekolah,Syifa bertemu dengan temannya Raya. “Fa,pulang sekolah nanti aku ke rumahmu bolehkan? Aku ingin pulang sama ayahku. Ayahku dikantor sampai jam setengah tiga. Jam dua aku ke kantor ayah dari rumahmu,”Raya meminta izin pada Syifa. “Tentu saja boleh,Ray!” Syifa membolehkan. Kebetulan kantor tempat ayah Raya bekerja dekat dengan rumah Syifa.

Sepulang sekolah,Syifa dan Raya bergegas pulang. Ketika sampai dirumah Syifa,mata Raya langsung tertuju pada anggrek-anggrek yang hampir mekar itu. Anggrek-anggrek itu memang sangat menarik dengan berbagai warna dan variasi. Ada anggrek yang berwarna putih,ungu,hijau kecoklatan,merah hati dan ungu muda. “Nenek mu sungguh teliti dalam merawat anggrek-anggrek ini. Siapapun yang melihat warna-warni anggrek ini pasti hatinya langsung bahagia dan tenang.”Raya memuji anggrek nenek Syifa.

“Nenek dimana,Ma?”tanya Syifa yang daritadi belum melihat keberadaan neneknya. “Nenek sedang dibawa kerumah sakit dengan Kak Rafli.”jawab mamanya. Jarum panjang jam menunjukkan angka dua. Raya pun segera ke kantor ayahnya. Syifa masih menunggu kepulangan neneknya. Pukul setengah empat sore,nenek Syifa pulang dari rumah sakit. Ia kelihatan lemas. Matanya sayu dan nenek tak sanggup berjalan sehingga untuk masuk kekamar nenek harus digendong oleh Kak Rafli.

Sudah tiga hari nenek sakit. Nenek tak sanggup menyiram anggrek-anggrek kesayangannya. Mama Syifa bergantian dengan Kak Rafli untuk menyiram bunga. Syifa sebenarnya sangat ingin membantu merawat anggrek itu dengan menyiramnya. Namun dipagi hari ia harus bersekolah. Syifa sedih karna tak dapat membantu merawat anggrek itu.
Hari ini mama dan papa Syifa memutuskan untuk membawa nenek ke rumah sakit untuk dirawat inap. Nenek pun dirawat lebih kurang selama lima hari. Keadaan nenek Syifa mulai membaik karna dirumah sakit ia mendapat bantuan oksigen.  “Nenek sudah tidak betah dirumah sakit. Nenek mau pulang,”nenek Syifa mengeluh pada Syifa dan Kak Rafli. “Tapi Nenek belum sembuh total,”Kak Rafli mencoba menasihati nenek. “Anggrek Nenek tidak ada yang menyiram,nanti anggreknya layu,” nenek sangat khawatir dengan keadaan anggreknya. Setelah lima hari dirumah sakit,mama dan papa Syifa memutuskan untuk membawa nenek pulang.

Ternyata,keputusan mama dan papa Syifa salah,keadaan nenek semakin memburuk. Nafas nenek sesak dan tak beraturan. Batuknya berdarah dan badan nenek panas. “Ibu mau dirawat dirumah sakit lagi kan? Keadaan Ibu belum membaik,”mama Syifa membujuk nenek. “Tidak usah. Ibu sudah tidak kuat. Ibu dirumah saja,”nenek menolak permintaan mama Syifa. “Nenek cepat sembuh ya,anggrek Nenek tidak ada yang merawat,”Syifa berbicara pada neneknya dengan mata berkaca-kaca.

Keesokan harinya,tidur Syifa terganggu oleh suara berisik. Kali ini,bukan suara batuk nenek yang mengganggu,melainkan suara jerit tangis mama,tante dan bude Syifa. “Ibuu..Ibuu..Bangun Buu..!”suara itu jelas terdengar dari kamar nenek. Syifa pun tersentak dan langsung berlari kekamar neneknya. “Syifa,nenek sudah pergi,pergi tinggalin kita semua,”Kak Rafli berkata pada Syifa sambil meneteskan air mata. Syifa pun memeluk tubuh neneknya yang tak lagi bernyawa. Bibir nenek pucat,kuku tangan dan kaki nenek pun membiru. Syifa menangis dan berharap nenek nya bisa bangun dan mengusap air matanya.

Keluarga Syifa pun langsung membereskan rumah dan membentang karpet untuk alas duduk para pelayat yang berdatangan. “Nenek dikebumikan setelah azan asar,karna kita harus menunggu saudara-saudara yang ingin melihat nenek untuk terakhir kalinya,”papa Syifa berkata pada Syifa dan keluarga nya. “Syifa petik bunga dihalaman untuk ditaburkan diatas makam nenek nanti!”ujar mama Syifa. Syifa pun bergegas memetik bunga dihalaman rumahnya. Tiba-tiba saja,matanya tertuju kepada anggrek-anggrek neneknya yang sudah bermekaran. Ia teringat janjinya pada neneknya untuk mengambil foto anggrek itu. Ia pun mengambil foto anggrek yang baru mekar itu dengan kamera telepon genggamnya. Setelah itu anggrek itu dipetiknya. Lalu ia teringat lagi akan perkataan Raya bahwa anggrek neneknya itu bisa menenangkan hati siapapun yang melihatnya. Syifa pun berharap agar neneknya bisa tenang melihat anggrek yang lama ia rawat kini telah mekar dan terletak diatas tempat peristirahatan terakhirnya. “Anggrek ini dari mu dan untuk mu,Nek!” kata Syifa dalam hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar