“Uhukk..uhukkk..”suara batuk nenek
membangunkan Syifa dari tidurnya. Kamar Syifa yang bersebelahan dengan kamar
neneknya membuat Syifa sering terganggu tidurnya akibat suara batuk nenek.
Syifa masuk ke kamar neneknya sambil membawa segelas air hangat. “Nenek mau
minum air hangat? Tenggorokan Nenek sakit ya?” tawar Syifa pada neneknya. “Nenek
tak apa-apa,Syifa. Terima kasih ya air hangatnya,”nenek meneguk air dari Syifa
lalu bangkit dari tempat tidur untuk melakukan aktivitas yang sudah biasa ia
lakukan dipagi hari. Nenek Syifa adalah orang yang rajin. Meskipun
sakit-sakitan ia tetap mempunyai semangat untuk merawat anggrek-anggrek
kesayangan nya.
“Nek,Syifa pergi sekolah dulu
ya!”Syifa pamit kepada neneknya yang sedang menyiram tanaman. “Bu,saya antar
Syifa sekolah dulu ya!”mama Syifa juga pamit kepada nenek. “Iya,hati-hati ya.
Syifa belajar yang rajin ya! Biar bisa jadi pelukis terkenal!”nenek memberi
Syifa semangat.
Jam setengah satu tepat,Syifa
pulang dari sekolahnya. “Assalamualaikum!” Syifa mengucap salam. Syifa yang
baru pulang dari sekolah tertarik melihat neneknya yang sedang memegang dan
memperhatikan anggrek-anggreknya yang hampir mekar. “Waalaikumsalam.. Syifa
lihat anggrek nenek sudah hampir mekar. Coba ambil handphone mu!”nenek menyuruh
Syifa. “Buat apa handphone nya,Nek?”tanya Syifa. “Nenek mau ambil gambar nya
dengan kamera handphone mu. Nanti gambarnya mau Nenek cetak,”nenek berkata
dengan raut muka bahagia. “Nanti saja,Nek! Tunggu bunganya mekar semua,nanti
Syifa ambil fotonya.”Syifa langsung masuk kedalam rumah.
Keesokan harinya,Syifa
terbangun dari tidurnya. Kali ini ia tidak mendengar suara batuk nenek. Syifa
segera mandi dan bersiap berangkat kesekolah. “Hari ini Kamu pergi sekolah
diantar Kak Rafli saja ya!”pinta mama pada Syifa. Syifa yang melihat mamanya
membawa susu ke kamar nenek tidak menjawab dan ballik bertanya. “Susunya nenek
mau Mama bawa kemana? Biasanya kan Mama letakkan diatas meja makan.” Mama
menjelaskan,“Nenek sedang tidak enak badan. Katanya kepalanya pusing dan
nafasnya sesak. Jadi Kamu diantar Kak Rafli saja ya. Mama mau jaga nenek”.
Disekolah,Syifa bertemu dengan
temannya Raya. “Fa,pulang sekolah nanti aku ke rumahmu bolehkan? Aku ingin
pulang sama ayahku. Ayahku dikantor sampai jam setengah tiga. Jam dua aku ke
kantor ayah dari rumahmu,”Raya meminta izin pada Syifa. “Tentu saja boleh,Ray!”
Syifa membolehkan. Kebetulan kantor tempat ayah Raya bekerja dekat dengan rumah
Syifa.
Sepulang sekolah,Syifa dan Raya
bergegas pulang. Ketika sampai dirumah Syifa,mata Raya langsung tertuju pada
anggrek-anggrek yang hampir mekar itu. Anggrek-anggrek itu memang sangat
menarik dengan berbagai warna dan variasi. Ada anggrek yang berwarna
putih,ungu,hijau kecoklatan,merah hati dan ungu muda. “Nenek mu sungguh teliti
dalam merawat anggrek-anggrek ini. Siapapun yang melihat warna-warni anggrek
ini pasti hatinya langsung bahagia dan tenang.”Raya memuji anggrek nenek Syifa.
“Nenek dimana,Ma?”tanya Syifa
yang daritadi belum melihat keberadaan neneknya. “Nenek sedang dibawa kerumah
sakit dengan Kak Rafli.”jawab mamanya. Jarum panjang jam menunjukkan angka dua.
Raya pun segera ke kantor ayahnya. Syifa masih menunggu kepulangan neneknya. Pukul
setengah empat sore,nenek Syifa pulang dari rumah sakit. Ia kelihatan lemas.
Matanya sayu dan nenek tak sanggup berjalan sehingga untuk masuk kekamar nenek
harus digendong oleh Kak Rafli.
Sudah tiga hari nenek sakit. Nenek
tak sanggup menyiram anggrek-anggrek kesayangannya. Mama Syifa bergantian
dengan Kak Rafli untuk menyiram bunga. Syifa sebenarnya sangat ingin membantu
merawat anggrek itu dengan menyiramnya. Namun dipagi hari ia harus bersekolah.
Syifa sedih karna tak dapat membantu merawat anggrek itu.
Hari ini mama dan papa Syifa
memutuskan untuk membawa nenek ke rumah sakit untuk dirawat inap. Nenek pun
dirawat lebih kurang selama lima hari. Keadaan nenek Syifa mulai membaik karna
dirumah sakit ia mendapat bantuan oksigen.
“Nenek sudah tidak betah dirumah sakit. Nenek mau pulang,”nenek Syifa
mengeluh pada Syifa dan Kak Rafli. “Tapi Nenek belum sembuh total,”Kak Rafli
mencoba menasihati nenek. “Anggrek Nenek tidak ada yang menyiram,nanti anggreknya
layu,” nenek sangat khawatir dengan keadaan anggreknya. Setelah lima hari
dirumah sakit,mama dan papa Syifa memutuskan untuk membawa nenek pulang.
Ternyata,keputusan mama dan papa
Syifa salah,keadaan nenek semakin memburuk. Nafas nenek sesak dan tak
beraturan. Batuknya berdarah dan badan nenek panas. “Ibu mau dirawat dirumah
sakit lagi kan? Keadaan Ibu belum membaik,”mama Syifa membujuk nenek. “Tidak
usah. Ibu sudah tidak kuat. Ibu dirumah saja,”nenek menolak permintaan mama
Syifa. “Nenek cepat sembuh ya,anggrek Nenek tidak ada yang merawat,”Syifa
berbicara pada neneknya dengan mata berkaca-kaca.
Keesokan harinya,tidur Syifa
terganggu oleh suara berisik. Kali ini,bukan suara batuk nenek yang
mengganggu,melainkan suara jerit tangis mama,tante dan bude Syifa. “Ibuu..Ibuu..Bangun
Buu..!”suara itu jelas terdengar dari kamar nenek. Syifa pun tersentak dan
langsung berlari kekamar neneknya. “Syifa,nenek sudah pergi,pergi tinggalin
kita semua,”Kak Rafli berkata pada Syifa sambil meneteskan air mata. Syifa pun
memeluk tubuh neneknya yang tak lagi bernyawa. Bibir nenek pucat,kuku tangan
dan kaki nenek pun membiru. Syifa menangis dan berharap nenek nya bisa bangun
dan mengusap air matanya.
Keluarga Syifa pun langsung
membereskan rumah dan membentang karpet untuk alas duduk para pelayat yang
berdatangan. “Nenek dikebumikan setelah azan asar,karna kita harus menunggu
saudara-saudara yang ingin melihat nenek untuk terakhir kalinya,”papa Syifa
berkata pada Syifa dan keluarga nya. “Syifa petik bunga dihalaman untuk
ditaburkan diatas makam nenek nanti!”ujar mama Syifa. Syifa pun bergegas
memetik bunga dihalaman rumahnya. Tiba-tiba saja,matanya tertuju kepada
anggrek-anggrek neneknya yang sudah bermekaran. Ia teringat janjinya pada
neneknya untuk mengambil foto anggrek itu. Ia pun mengambil foto anggrek yang
baru mekar itu dengan kamera telepon genggamnya. Setelah itu anggrek itu
dipetiknya. Lalu ia teringat lagi akan perkataan Raya bahwa anggrek neneknya
itu bisa menenangkan hati siapapun yang melihatnya. Syifa pun berharap agar
neneknya bisa tenang melihat anggrek yang lama ia rawat kini telah mekar dan
terletak diatas tempat peristirahatan terakhirnya. “Anggrek ini dari mu dan
untuk mu,Nek!” kata Syifa dalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar